Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi mini

Fiksi Mini: Dompet di Toilet

Ilustrasi dompet (pixabay.com/ Ray_Shrewsberry )   SETELAH melewati proses wawancara yang cukup mendebarkan, sang rekruter berkata yang kalimatnya kira-kira begini, "Ditunggu dua minggu lagi." Aku segera menjabat tangan perekrut tadi sembari mengucapkan terima kasih karena diberi kesempatan ikut wawancara kali ini. Tak lama, aku meninggalkan ruangan wawancara tersebut. Namun sebelum turun dengan lift, aku mampir ke toilet sebentar untuk buang air kecil. *** Aku bergegas memasuki bilik yang lagi kosong setibanya di toilet. Kemudian mengambil ponsel untuk memeriksa jam. Rupanya sekarang sudah pukul 11.00 siang. Wajar sih karena yang diwawancara hari ini ada 5 orang termasuk aku sendiri. Aku lantas membereskan semua keperluan di sini. Aku tidak mau berlama-lama di tempat yang belum tentu menjadi tempat kerja baruku. Jeda sekian detik, aku berjalan menuju wastafel untuk membersihkan tangan sambil merapikan diri. Baru saja tanganku menyentuh botol sabun cair, mendadak terpampang s...

Fiksi Mini: Berdamai dengan Sifat Mengeluh

Ilustrasi gambar (Sumber: pixabay.com/ graphixmade ) SETIAP hari ada saja yang membuatku tidak berhenti untuk mengeluh. Dan kebanyakan di antaranya adalah masalah sepele. Capek dikit, ngeluh . Merasa buntu, ngeluh juga. Sampai orang-orang terdekatku pada caaapek dengerin keluh-kesahku ini. Tiap kali bilang pengen curhat, pasti isinya enggak jauh-jauh dari keluhanku yang sebenarnya masih bisa dicari jalan keluarnya. Kali ini aku berkesempatan mengikuti lomba menulis artikel. Pembahasannya tentang Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Awalnya ketika melakukan riset artikel ini terasa begitu menyenangkan. Sampai pada akhirnya...dipertemukan lagi dengan titik jenuh. Dan aku mulai merasa ada yang salah dengan risetku ini. Aku merasa kalau aku telah membuang-buang waktu karena terlalu fokus riset dengan mengandalkan satu sumber buku referensi saja setelah artikel berita. Seharusnya aku mengambil bahan riset dari artikel berita dan jurnal, bukan artikel berita dan buku referensi. Meski sudah kuberi ...

Fiksi Mini: Memutuskan untuk Kembali

Ilustrasi gambar (Sumber: unsplash.com/ @evelynparis )   AKU dalam perjalanan menuju rumah yang sudah lama kutinggalkan selama bertahun-tahun. Karena kejadian itu, kami tidak berkomunikasi lagi. Bukan! Lebih tepatnya karena perkataanku yang membuat perasaan orang yang paling kusayangi dan paling kuhargai...terluka. Sungguh, sebetulnya bukan ini yang kumau. Pada awalnya aku ragu, apakah kepulanganku ke rumah itu akan menimbulkan masalah baru? Apakah orang itu masih marah padaku? Aku takut, sungguh takut. Tidak sanggup hati ini menghadapi kebencian yang akan kuhadapi nanti. Tapi, seseorang pernah berkata padaku, "Kamu harus pulang. Dia sedang menunggu kamu. Dia udah enggak marah lagi sama kamu." Hanya berbekal keyakinan tersebut aku memberanikan diri untuk menjejakkan kaki ke rumah itu lagi. Selain karena penasaran, sesungguhnya...aku juga merindukannya. Merindukan semua yang ada di sana, merindukan mereka semua, dan...merindukan dia. Seseorang yang telah membesarkanku dan tel...

Fiksi Mini: Suatu Hal yang Berkaitan dengan...Keajaiban

Ilustrasi gambar (Sumber: unsplash.com/ @benwhitephotography ) LELAH menunggu. Satu setengah tahun ini masih menganggur. Sementara teman-teman seangkatanku sudah mendapatkan karier impiannya. Ingin kuteriak, merasa semua usaha yang kulakukan sia-sia. Sebenarnya apa yang salah?! *** Beberapa hari setelahnya, notifikasi WhatsApp masuk ke ponsel. Aku masih frustrasi saat itu. Dikatakan bahwa aku diundang untuk interview  besok lusa. Aku tak percaya kalau keajaiban sungguh terjadi. Hingga rasanya ingin menangis. *** Aku lupa, ketika berdoa ada 3 hal yang selalu kupercaya: langsung dikabulkan, tidak langsung dikabulkan, dan tidak dikabulkan karena—mungkin—bukan pilihan baik lalu digantikan dengan yang lebih baik. Maafkan aku, Ya Allah. Dan...terima kasih, sekali lagi Engkau t'lah mengabulkan permintaanku.[]

Fiksi Mini: Bagai Roda yang Berputar Arah

Ilustrasi gambar (Sumber: pixabay.com/ AndyG ) DULU kita pernah berada di atas. Ketika berada di titik itu, kita begitu menikmatinya. Menikmati kenyamanannya, menikmati posisinya. Sampai kita lupa bahwa terkadang kita pun sesekali harus menengok ke bawah. Aku pernah berada di posisi yang dianggap ternyaman ini. Posisi yang bisa dibilang ... diinginkan kebanyakan orang. Siapa sih yang enggak pengin berada di posisi atas? Tempat di mana kita enggak perlu mengkhawatirkan sebagian masalah dalam hidup kita. Namun ... bukankah dalam hidup itu akan ada saja masalah yang bermunculan? Maksudku begini, kita itu kan menjalani hidup untuk belajar. Belajar yang ilmunya enggak cuma kita dapetin dari sekolah formal doang tapi juga dari kehidupan kita sehari-hari. Tiap hari, kita akan selalu belajar. Dan melalui masalah yang bermunculan ini, kita belajar untuk mencari jawaban yang tepat atas permasalahan dalam hidup kita. Gimana caranya supaya masalah yang ... menjadi pertanyaan dalam soal-soal ujian...

Fiksi Mini: Yang Tak Diharapkan

Ilustrasi gambar (Sumber: pixabay.com/ Mohamed_hassan ) HARI itu aku berjalan menyusuri rumah demi rumah seusai pulang kerja. Seperti biasa, aku selalu pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Walau sebenarnya bisa saja aku memanggil ojek daring untuk mengantarku pulang sampai ke rumah lebih cepat. Ini adalah keputusanku, "Berhemat!" Mengurangi pengeluaran enggak perlu, cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam perjalanan ini, aku selalu memperhatikan rumah-rumah di sekitarku.  Rasanya pasti nyaman tinggal di rumah yang lokasinya lebih dekat. Enggak perlu capek-capek untuk jalan kaki 500 meter lagi sampai ke rumah.  Pikirku pada malam itu. Tapi ... untuk punya rumah baru kan butuh biaya yang enggak sedikit. Sedangkan gaji bulananku selalu terpakai untuk kebutuhan sekeluarga. Akan butuh waktu lama untuk bisa punya rumah baru. Seandainya bisa ngontrak rumah sepetak atau bahkan ngekos , percuma juga rasanya. Yang ada bikin pengeluaran makin membengkak. Akhirnya malah enggak bisa n...

Fiksi Mini: Kata Papa

Dulu, tiap kali merasa kesal atau kecewa, pasti aku akan langsung mencari tukang mi ayam terdekat untuk mengurangi perasaan tersebut. Enggak perlu menu termahal, yang penting saat itu ada semangkuk mi ayam yang bisa membantu menenangkan pikiran sekaligus mengenyangkan. Papa sering bilang kalau aku ini hobi banget cari pelarian. Awalnya aku enggak percaya perkataan Papa tersebut, karena apa yang aku rasakan saat itu adalah hal yang sangat aku butuhkan. Dan lucunya lagi, Papa juga heran, kenapa aku--yang hobinya makan di saat kesal atau kecewa--badannya masih kurus kerempeng begini aja? Apa jangan-jangan cacingan? Papa bahkan sempat beberapa kali beli obat cacingan karena mengira aku mengalami penyakit itu. Tapi hingga saat ini kesehatanku masih baik-baik saja, pola makan juga masih normal. Enggak mungkin lah aku cacingan. Sampai pada suatu Subuh--ketika baru bangun tidur--aku tersadar bahwa apa yang Papa bilang memang benar adanya. Bahwa aku.. memang suka mencari pelarian di saat sedang...

Fiksi Mini: Satu Hal yang Terlupakan

Ilustrasi gambar (Sumber: unsplash.com/ Annie Spratt ) TERKADANG, saking sibuknya dengan kegiatan sehari-hari dan pemikiran sendiri, kita suka lupa dengan hal-hal kecil yang (mungkin) kelihatannya sepele tapi kenyataannya sangat penting dalam hidup kita. Dan ini terjadi dalam hidupku. Hari itu aku sudah menyiapkan sejumlah jawaban yang akan ditanyakan pada interview nanti. Bahkan jawaban untuk pertanyaan yang belum bisa kukuasai pun sudah disiapkan. Semuanya berkat riset yang kulakukan secara daring sejak beberapa hari lalu. Dengan persiapan ini–saat itu–aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa lolos kali ini. Tinggal didukung dengan doa sekencang-kencangnya juga dukungan dari orang-orang sekitar terutama keluarga, baik secara moral maupun finansial. Aku tidak ingin mengecewakan harapan mereka. *** HARI H wawancara pun tiba, dan aku sudah memperkirakan bahwa pasti banyak yang kualitasnya lebih baik dariku. Jujur, hal ini sempat membuatku minder. Tapi karena sedang butuh...

Fiksi Mini: Kertas Putih dan Pulpen

Ilustrasi gambar kertas putih dan pulpen (Sumber: unsplash.com/ Markus Spiske ) SEHARIAN ini ada saja yang aku pikirkan. Kebanyakan tentang keluhanku pada dunia. Tidak bersyukur sekali, ya, kesannya. Tapi begitulah aku. Setiap hari keluhan itu selalu datang menghampiri. Detailnya mungkin takkan bisa aku jelaskan di sini. Namun satu hal pasti, sesuatu seperti itu yang aku rasakan. Kemudian, pandanganku tertuju pada dua benda. Kertas polos dan pulpen di atas meja belajar. Sekilas terbesit dalam benak ini untuk menuangkan apa saja yang selama ini memenuhi pikiranku. Aku pun segera melangkahkan kaki ke meja belajar tersebut. Ilustrasi gambar meja belajar (Sumber: unsplash.com/ Steven Ungermann ) Kala melihat kertas ini, banyak sekali hal yang ingin aku tuangkan di atasnya. Entah itu tentang unek-unekku akan sesuatu, pengalaman menarik dalam hidup, atau hal-hal lainnya. Pokoknya sesuatu yang bisa bantu mengurangi beban dalam pikiran. Tidak lama setelah itu, aku mulai...

Fiksi Mini: Foto Awan

DUA hari yang lalu aku lagi duduk santai di loteng jemuran luar. Kala itu aku habis melakukan peregangan sebelum memulai aktivitas. Nah, pas lihat ke langit, dalam hati langsung berkata, "Wah, langitnya cerah banget nih? Bagus lagi posisi langit biru dan awannya. Lumayan nih buat ambil foto." Sekitar 5 menit kemudian, aku bergegas ke kamar tidur sebentar untuk ambil ponsel. Kebetulan kamar tidurku ada di lantai bawah. Saking semangatnya aku sampai lari-lari ke sana. Lebay, ya? Padahal masih di dalam rumah, ngapain pakai acara lari-larian segala? Sesampainya di kamar, aku cari ponsel itu. Untungnya ponsel itu aku taruh di atas meja samping kasur. Aman lah. Setelah itu aku kembali lagi ke loteng untuk ngambil foto awan ini. Semoga belum berubah jadi mendung, karena belakangan cuaca lagi nggak bersahabat. Di loteng tempat aku berolahraga tadi, aku lantas cari sudut yang pas buat ambil foto. Tadinya sih di sudut menghadap arah utara, tapi setelah ditimbang-timbang lag...