Langsung ke konten utama

Fiksi Mini: Foto Awan

DUA hari yang lalu aku lagi duduk santai di loteng jemuran luar. Kala itu aku habis melakukan peregangan sebelum memulai aktivitas. Nah, pas lihat ke langit, dalam hati langsung berkata, "Wah, langitnya cerah banget nih? Bagus lagi posisi langit biru dan awannya. Lumayan nih buat ambil foto." Sekitar 5 menit kemudian, aku bergegas ke kamar tidur sebentar untuk ambil ponsel. Kebetulan kamar tidurku ada di lantai bawah. Saking semangatnya aku sampai lari-lari ke sana. Lebay, ya? Padahal masih di dalam rumah, ngapain pakai acara lari-larian segala?

Sesampainya di kamar, aku cari ponsel itu. Untungnya ponsel itu aku taruh di atas meja samping kasur. Aman lah. Setelah itu aku kembali lagi ke loteng untuk ngambil foto awan ini. Semoga belum berubah jadi mendung, karena belakangan cuaca lagi nggak bersahabat.

Di loteng tempat aku berolahraga tadi, aku lantas cari sudut yang pas buat ambil foto. Tadinya sih di sudut menghadap arah utara, tapi setelah ditimbang-timbang lagi, hmm... rasanya kurang pas nih. Akhirnya kucari sudut lain dan ketemulah sudut yang pas yaitu di arah timur tempat matahari selalu terbit. Dan kemudian aku siapkan ponsel, membuka fitur kamera di aplikasi Instagram dan terakhir aku posting di sana.

Lumayan juga lah biar sekalian ngeramein jumlah postingan feed Instagram-ku yang masih sepi.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review E-book: Proses Kreatif Menulis Cerpen

Judul: Proses Kreatif Menulis Cerpen Penulis: Hermawan Aksan Penerbit: Nuansa Cendekia Terbit: Cetakan I, Nopember 2011             Cetakan II, Maret 2015 (Edisi Revisi) Tebal: 212 Halaman ISBN: 978-602-350-004-8 E-ISBN: 978-602-350-257-8 Sinopsis: Melalui buku ini Hermawan Aksan menawarkan sejumlah petunjuk praktis dan sederhana tentang penulisan cerpen. Cocok untuk remaja SMP, SMA, dan mahasiswa baik yang sama sekali belum pernah menulis (cerpen) maupun mereka yang sedang coba-coba menulis. Tentu saja buku ini juga sangat baik dibaca oleh mereka yang sudah menjadi penulis guna mendapatkan tambahan ilmu. Selain itu, cocok digunakan sebagai bahan mengajar para guru. _________________________________________ Satu bulan lalu aku menemukan e-book "Proses Kreatif Menulis Cerpen" di aplikasi iPusnas, sebuah aplikasi peminjaman e-book dari Perpustakaan Nasional. Itu pun hasil dari iseng-iseng karena mau cari bacaan yang beda dari biasanya. Review d...

Fiksi Mini: Berdamai dengan Sifat Mengeluh

Ilustrasi gambar (Sumber: pixabay.com/ graphixmade ) SETIAP hari ada saja yang membuatku tidak berhenti untuk mengeluh. Dan kebanyakan di antaranya adalah masalah sepele. Capek dikit, ngeluh . Merasa buntu, ngeluh juga. Sampai orang-orang terdekatku pada caaapek dengerin keluh-kesahku ini. Tiap kali bilang pengen curhat, pasti isinya enggak jauh-jauh dari keluhanku yang sebenarnya masih bisa dicari jalan keluarnya. Kali ini aku berkesempatan mengikuti lomba menulis artikel. Pembahasannya tentang Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Awalnya ketika melakukan riset artikel ini terasa begitu menyenangkan. Sampai pada akhirnya...dipertemukan lagi dengan titik jenuh. Dan aku mulai merasa ada yang salah dengan risetku ini. Aku merasa kalau aku telah membuang-buang waktu karena terlalu fokus riset dengan mengandalkan satu sumber buku referensi saja setelah artikel berita. Seharusnya aku mengambil bahan riset dari artikel berita dan jurnal, bukan artikel berita dan buku referensi. Meski sudah kuberi ...

Fiksi Mini: Memutuskan untuk Kembali

Ilustrasi gambar (Sumber: unsplash.com/ @evelynparis )   AKU dalam perjalanan menuju rumah yang sudah lama kutinggalkan selama bertahun-tahun. Karena kejadian itu, kami tidak berkomunikasi lagi. Bukan! Lebih tepatnya karena perkataanku yang membuat perasaan orang yang paling kusayangi dan paling kuhargai...terluka. Sungguh, sebetulnya bukan ini yang kumau. Pada awalnya aku ragu, apakah kepulanganku ke rumah itu akan menimbulkan masalah baru? Apakah orang itu masih marah padaku? Aku takut, sungguh takut. Tidak sanggup hati ini menghadapi kebencian yang akan kuhadapi nanti. Tapi, seseorang pernah berkata padaku, "Kamu harus pulang. Dia sedang menunggu kamu. Dia udah enggak marah lagi sama kamu." Hanya berbekal keyakinan tersebut aku memberanikan diri untuk menjejakkan kaki ke rumah itu lagi. Selain karena penasaran, sesungguhnya...aku juga merindukannya. Merindukan semua yang ada di sana, merindukan mereka semua, dan...merindukan dia. Seseorang yang telah membesarkanku dan tel...