![]() |
| Ilustrasi dompet (pixabay.com/Ray_Shrewsberry) |
SETELAH melewati proses wawancara yang cukup mendebarkan, sang rekruter berkata yang kalimatnya kira-kira begini, "Ditunggu dua minggu lagi." Aku segera menjabat tangan perekrut tadi sembari mengucapkan terima kasih karena diberi kesempatan ikut wawancara kali ini. Tak lama, aku meninggalkan ruangan wawancara tersebut. Namun sebelum turun dengan lift, aku mampir ke toilet sebentar untuk buang air kecil.
***
Aku bergegas memasuki bilik yang lagi kosong setibanya di toilet. Kemudian mengambil ponsel untuk memeriksa jam. Rupanya sekarang sudah pukul 11.00 siang. Wajar sih karena yang diwawancara hari ini ada 5 orang termasuk aku sendiri. Aku lantas membereskan semua keperluan di sini. Aku tidak mau berlama-lama di tempat yang belum tentu menjadi tempat kerja baruku.
Jeda sekian detik, aku berjalan menuju wastafel untuk membersihkan tangan sambil merapikan diri. Baru saja tanganku menyentuh botol sabun cair, mendadak terpampang sebuah dompet kecil warna biru tergeletak di sebelah kananku. Aku penasaran, dompet siapa ini? Kenapa bisa ada di sini? Ah, mungkin punya salah satu karyawan sini kali, ya?
Tidak lama, masuklah seorang karyawati dan langsung saja kuhampiri dia. "Mbak, maaf. Ini dompet Mbak, bukan? Dompet ini tertinggal di toilet." tanyaku sambil menyodorkan si dompet biru. Lalu Mbak Karyawati itu menjawab kalau dompet itu bukan punya dia, tapi punya teman (kerja)nya. Akhirnya kuserahkan dompet tadi ke si Mbak Karyawati. Kasihan juga kalau temannya sampai benar-benar kehilangan dompet itu, apalagi kalau ada orang yang diam-diam mencari celah untuk mengambil dompet ini. Selesai urusan dengan Mbak Karyawati, aku segera pergi dari perusahaan ini.
Dalam perjalanan menuju lift, tiba-tiba saja aku terpikirkan dengan hal ini:
Apakah kejadian yang tadi itu salah satu bentuk tes dari perusahaan ini untuk menguji kejujuran para pelamar, ya?

Komentar
Posting Komentar