Langsung ke konten utama

Fiksi Mini: Berdamai dengan Sifat Mengeluh

Ilustrasi gambar (Sumber: pixabay.com/graphixmade)

SETIAP hari ada saja yang membuatku tidak berhenti untuk mengeluh. Dan kebanyakan di antaranya adalah masalah sepele.

Capek dikit, ngeluh. Merasa buntu, ngeluh juga. Sampai orang-orang terdekatku pada caaapek dengerin keluh-kesahku ini. Tiap kali bilang pengen curhat, pasti isinya enggak jauh-jauh dari keluhanku yang sebenarnya masih bisa dicari jalan keluarnya.

Kali ini aku berkesempatan mengikuti lomba menulis artikel. Pembahasannya tentang Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Awalnya ketika melakukan riset artikel ini terasa begitu menyenangkan. Sampai pada akhirnya...dipertemukan lagi dengan titik jenuh. Dan aku mulai merasa ada yang salah dengan risetku ini.

Aku merasa kalau aku telah membuang-buang waktu karena terlalu fokus riset dengan mengandalkan satu sumber buku referensi saja setelah artikel berita. Seharusnya aku mengambil bahan riset dari artikel berita dan jurnal, bukan artikel berita dan buku referensi. Meski sudah kuberi tanda bab dan subbab mana saja yang kubutuhkan dari buku tersebut.

Dan ya, seperti biasa, lagi-lagi kuceritakan keluh-kesahku ini pada ibuku. Dan apa yang terjadi? Responsnya pun tidak jauh-jauh dari kalimat capek-dengerin-aku-ngeluh-terus. Kayak enggak ada hal lain yang bisa diceritain aja gitu. Sampai aku dibanding-bandingin sama kakakku. Kesal sih awalnya, karena tujuanku curhat itu berharap lawan bicaraku menjadi pendengar yang baik. Sebab enggak semua orang curhat itu artinya mereka lagi butuh saran dan solusi saja.

Cummaaa...kalau dipikir-pikir lagi, ada benarnya yang ibuku katakan. Aku sering sekali perhatikan kalau kakakku yang bercerita, kebanyakan tuh hal-hal yang bikin dia happy. Jarang cerita soal keluh-kesah yang lagi ia alami. Tidak seperti diriku. Mungkin...karena aku terlalu manja kali ya makanya gampang ngeluh kayak gini.

***

Jeda sementara dari kegiatan persiapan lomba, kubuka aplikasi musik digital demi menenangkan pikiran. Baru scrolling sebentar, langsung ketemu satu lagu yang berkaitan dengan situasi berdamai dengan diri sendiri. Sejenak terlintas kata "berdamai" dalam benak pikiran. Aku jadi teringat dengan interaksiku dengan ibu beberapa hari kemarin,

Apakah aku bisa berdamai dengan sifat mengeluh ini? Apakah aku bisa menikmati setiap prosesnya meski ujung-ujungnya akan tetap mengeluh?

Entahlah, belum ada solusi juga yang bisa kupikirkan. Mungkin ada baiknya...biarkan semua mengalir seiring waktu berjalan. Sambil pikirkan jalan keluar yang tepat seperti apa.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

First Impression: J-Drama Glass Heart (2025)

Sumber: Dokumen pribadi Kali ini aku mau sharing pengalaman aku nonton 2 episode perdana drama musikal yang rilis tahun ini, yaitu Glass Heart. Dorama dari Jepang ini sebenarnya udah masuk ke wishlist aku sejak pertama kali tayang di Netflix. Gak disangka, ternyata adikku juga nonton dorama ini mengingat dia sendiri tertarik banget sama hal-hal berbau Jepang. Dari adegan pembuka, dorama ini cukup mencuri perhatianku karena ceritanya yang benar-benar fokus di dunia musik dan diceritakan bagaimana awal perjuangan band baru bentukan Fujitani Naoki (diperankan Satoh Takeru), TENBLANK, untuk dikenal oleh para pecinta musik rock . Aku sendiri sebetulnya enggak gitu update ya sama berita-berita tentang J-Dorama apalagi J-Pop. Nonton dorama aja jarang, malah lebih sering ngikutin update -an drakor sama drama Mandarin. Hehe Terus karakter protagonis ceweknya, Saijo Akane (diperankan Miyazaki Yu), walau sebenarnya karakter dia klise banget tapi lihat gimana perjuangan dia tuh bikin aku k...

Review US-Movie: Still Alice (2014)

Sumber: Dokumen pribadi Judul: Still Alice Sutradara: Richard Glatzer, Wash Westmoreland Genre: Drama, Slice of life Tahun Rilis: 2014 Pemain: Julianne Moore, Alec Baldwin, Kristen Stewart, Kate Bosworth, Hunter Parrish, Shane McRae, Stephen Kunken Merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Lisa Genova, film Still Alice  memfokuskan kisahnya pada Alice Howland (diperankan Julianne Moore) yang divonis mengidap Alzheimer Dini kala usianya baru memasuki 50 tahun. Alice yang dikenal perfeksionis, tangguh, serta keras kepala tidak menyangka hal semacam ini terjadi pada dirinya. Sebagai profesor ilmu bahasa Universitas Columbia, tentu saja keadaan ini akan menjadi penghalang untuk tetap bisa mengajar di kampus bergengsi tersebut. Usaha demi usaha dilakukan agar Alice dapat mengatasi semuanya sendiri. Namun, pada akhirnya ia tak kuasa menanggung hal itu. Dengan berat hati, ia memberi tahu perihal kondisi kesehatannya belakangan ini pada suami dan ketiga anaknya. Mengingat ada kemun...