Langsung ke konten utama

Postingan

Melalui Still Alice, Kita Diajarkan untuk...

Kemarin siang aku mengulang kembali menonton film Still Alice yang dibintangi Julianne Moore. Awalnya aku menonton film Still Alice karena film ini bergenre drama keluarga yang masuk dalam kategori sedih. Melihat gambaran kehidupan Dr. Alice Howland di film ini, benar-benar begitu sempurna. Meski Alice bukan berasal dari keluarga kelas atas. Ia hanyalah orang biasa yang terus berjuang dalam hidupnya dan terbiasa untuk menyelesaikan semua urusan termasuk permasalahan dalam hidupnya secara mandiri. Alice sangat beruntung karena ia mendapatkan support system dari suami dan ketiga anaknya. Walau dua di antaranya tidak begitu akur. Seiring berjalannya waktu, kehidupan Alice yang sempurna ini tiba-tiba runtuh seketika karena suatu penyakit yang merenggut seluruh kerja kerasnya juga kenangan dalam hidupnya. Alzheimer Dini. Ya, di usianya yang baru saja menginjak 50 tahun ini ia divonis penyakit Alzheimer yang tentunya jarang ditemui di kalangan usianya. Siapa pun yang berada dalam posisi i...

Malas

Menjalani hidup tanpa motivasi ternyata bikin kita tuh jadi malas-malasan. Bawaannya mager (malas gerak) mulu. Dan ini juga yang aku alamin selama bertahun-tahun. Malas! Kita jadi ngerasa hidup tuh gitu-gitu aja. Ya, gitu-gitu aja. Serasa enggak ada perubahan apa pun. Kita jadi enggak semangat dalam menjalani hidup, karena ya itu tadi, MALAS! Tapi kurasa hal ini enggak berlaku untuk yang tiba-tiba menjadi malas, padahal biasanya mereka punya motivasi yang kuat dan tujuan dalam hidup mereka. Mungkin lebih tepatnya disebut.. fase lelah. Ya, dalam fase ini kita mungkin akan menjadi malas juga bawaannya. Mau ngerjain ini mager, ngerjain itu juga mager. Yang bisa kita lakukan ketika dalam fase ini mungkin bukan menyalahkan diri, tetapi bersyukur. Bersyukur karena kita diberikan waktu untuk istirahat secara fisik dan mental, untuk memulihkan diri lalu menata kembali langkah apalagi yang perlu kita lakukan setelah masa istirahat ini. Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sekaligus diing...

Untuk Tuhan

Tuhan, aku salah. Aku salah sudah menyia-menyiakan kesempatan yang telah Engkau berikan. Aku salah karena tidak mendengarkan saran serta nasihat dari orang-orang sekelilingku. Aku salah karena tidak belajar dari pengalaman. Aku salah karena sifatku yang terlalu kekanakan. Aku tidak ingin lagi seperti ini, Ya Tuhan. Tuhan, aku sadar bahwa kesempatan hanya datang satu kali seumur hidup. Dan aku percaya itu. Namun jika diberi kesempatan satu kali lagi, aku ingin memperbaiki hal-hal buruk yang pernah kulakukan dahulu. Meski hanya berawal dari hal-hal kecil, paling tidak aku bisa melunasinya sedikit demi sedikit. Tuhan, jika boleh meminta, aku ingin keadaanku baik seperti dulu. Tetapi dengan versi diriku yang lebih baik. 14/12/2022 10.10AM

Fiksi Mini: Kata Papa

Dulu, tiap kali merasa kesal atau kecewa, pasti aku akan langsung mencari tukang mi ayam terdekat untuk mengurangi perasaan tersebut. Enggak perlu menu termahal, yang penting saat itu ada semangkuk mi ayam yang bisa membantu menenangkan pikiran sekaligus mengenyangkan. Papa sering bilang kalau aku ini hobi banget cari pelarian. Awalnya aku enggak percaya perkataan Papa tersebut, karena apa yang aku rasakan saat itu adalah hal yang sangat aku butuhkan. Dan lucunya lagi, Papa juga heran, kenapa aku--yang hobinya makan di saat kesal atau kecewa--badannya masih kurus kerempeng begini aja? Apa jangan-jangan cacingan? Papa bahkan sempat beberapa kali beli obat cacingan karena mengira aku mengalami penyakit itu. Tapi hingga saat ini kesehatanku masih baik-baik saja, pola makan juga masih normal. Enggak mungkin lah aku cacingan. Sampai pada suatu Subuh--ketika baru bangun tidur--aku tersadar bahwa apa yang Papa bilang memang benar adanya. Bahwa aku.. memang suka mencari pelarian di saat sedang...

Fiksi Mini: Satu Hal yang Terlupakan

Ilustrasi gambar (Sumber: unsplash.com/ Annie Spratt ) TERKADANG, saking sibuknya dengan kegiatan sehari-hari dan pemikiran sendiri, kita suka lupa dengan hal-hal kecil yang (mungkin) kelihatannya sepele tapi kenyataannya sangat penting dalam hidup kita. Dan ini terjadi dalam hidupku. Hari itu aku sudah menyiapkan sejumlah jawaban yang akan ditanyakan pada interview nanti. Bahkan jawaban untuk pertanyaan yang belum bisa kukuasai pun sudah disiapkan. Semuanya berkat riset yang kulakukan secara daring sejak beberapa hari lalu. Dengan persiapan ini–saat itu–aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa lolos kali ini. Tinggal didukung dengan doa sekencang-kencangnya juga dukungan dari orang-orang sekitar terutama keluarga, baik secara moral maupun finansial. Aku tidak ingin mengecewakan harapan mereka. *** HARI H wawancara pun tiba, dan aku sudah memperkirakan bahwa pasti banyak yang kualitasnya lebih baik dariku. Jujur, hal ini sempat membuatku minder. Tapi karena sedang butuh...

Fiksi Mini: Kertas Putih dan Pulpen

Ilustrasi gambar kertas putih dan pulpen (Sumber: unsplash.com/ Markus Spiske ) SEHARIAN ini ada saja yang aku pikirkan. Kebanyakan tentang keluhanku pada dunia. Tidak bersyukur sekali, ya, kesannya. Tapi begitulah aku. Setiap hari keluhan itu selalu datang menghampiri. Detailnya mungkin takkan bisa aku jelaskan di sini. Namun satu hal pasti, sesuatu seperti itu yang aku rasakan. Kemudian, pandanganku tertuju pada dua benda. Kertas polos dan pulpen di atas meja belajar. Sekilas terbesit dalam benak ini untuk menuangkan apa saja yang selama ini memenuhi pikiranku. Aku pun segera melangkahkan kaki ke meja belajar tersebut. Ilustrasi gambar meja belajar (Sumber: unsplash.com/ Steven Ungermann ) Kala melihat kertas ini, banyak sekali hal yang ingin aku tuangkan di atasnya. Entah itu tentang unek-unekku akan sesuatu, pengalaman menarik dalam hidup, atau hal-hal lainnya. Pokoknya sesuatu yang bisa bantu mengurangi beban dalam pikiran. Tidak lama setelah itu, aku mulai...

Daun Jeruk Sangrai

Halo.. Kali ini aku mau bahas pengalaman menyimpan daun jeruk sangrai nih. Sebetulnya ini ide ibuku karena (dulu) tiap kali beli daun jeruk, kan suka ditaruh begitu aja di mangkuk plastik kalau nggak pengin buru-buru dipakai. Tapi begitu udah kelamaan disimpan, akhirnya ya langsung dibuang karena nggak bisa dimanfaatkan lagi. Untuk itu, tercetuslah ide ibuku yang satu ini.   Awal membeli daun jeruk Jadi, daun jeruk ini dibeli di sebuah online shop khusus sayuran dan lauk-pauk pada salah satu marketplace . Kalau nggak salah ingat sekitar bulan Mei 2021. Awalnya kami sekeluarga pengin beli yang paling sedikit beratnya yaitu 50 gram, karena menurut kami bisa digunakan hingga tiga kali pakai. Tapi ternyata 50 gram daun jeruk itu masih kebanyakan juga. Kami pun bingung, mau diapakan daun jeruk sebanyak ini?   Solusi menyimpan daun jeruk Kemudian, Ibu memberi solusi agar daun jeruk ini disangrai saja. Awalnya aku nggak yakin. Apalagi kalau sampai memengaruhi ...