Langsung ke konten utama

Untuk Tuhan

Tuhan, aku salah.

Aku salah sudah menyia-menyiakan kesempatan yang telah Engkau berikan.

Aku salah karena tidak mendengarkan saran serta nasihat dari orang-orang sekelilingku.

Aku salah karena tidak belajar dari pengalaman.

Aku salah karena sifatku yang terlalu kekanakan.

Aku tidak ingin lagi seperti ini, Ya Tuhan.


Tuhan, aku sadar bahwa kesempatan hanya datang satu kali seumur hidup. Dan aku percaya itu.

Namun jika diberi kesempatan satu kali lagi, aku ingin memperbaiki hal-hal buruk yang pernah kulakukan dahulu.

Meski hanya berawal dari hal-hal kecil, paling tidak aku bisa melunasinya sedikit demi sedikit.


Tuhan, jika boleh meminta, aku ingin keadaanku baik seperti dulu. Tetapi dengan versi diriku yang lebih baik.


14/12/2022 10.10AM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review E-book: Proses Kreatif Menulis Cerpen

Judul: Proses Kreatif Menulis Cerpen Penulis: Hermawan Aksan Penerbit: Nuansa Cendekia Terbit: Cetakan I, Nopember 2011             Cetakan II, Maret 2015 (Edisi Revisi) Tebal: 212 Halaman ISBN: 978-602-350-004-8 E-ISBN: 978-602-350-257-8 Sinopsis: Melalui buku ini Hermawan Aksan menawarkan sejumlah petunjuk praktis dan sederhana tentang penulisan cerpen. Cocok untuk remaja SMP, SMA, dan mahasiswa baik yang sama sekali belum pernah menulis (cerpen) maupun mereka yang sedang coba-coba menulis. Tentu saja buku ini juga sangat baik dibaca oleh mereka yang sudah menjadi penulis guna mendapatkan tambahan ilmu. Selain itu, cocok digunakan sebagai bahan mengajar para guru. _________________________________________ Satu bulan lalu aku menemukan e-book "Proses Kreatif Menulis Cerpen" di aplikasi iPusnas, sebuah aplikasi peminjaman e-book dari Perpustakaan Nasional. Itu pun hasil dari iseng-iseng karena mau cari bacaan yang beda dari biasanya. Review d...

Fiksi Mini: Berdamai dengan Sifat Mengeluh

Ilustrasi gambar (Sumber: pixabay.com/ graphixmade ) SETIAP hari ada saja yang membuatku tidak berhenti untuk mengeluh. Dan kebanyakan di antaranya adalah masalah sepele. Capek dikit, ngeluh . Merasa buntu, ngeluh juga. Sampai orang-orang terdekatku pada caaapek dengerin keluh-kesahku ini. Tiap kali bilang pengen curhat, pasti isinya enggak jauh-jauh dari keluhanku yang sebenarnya masih bisa dicari jalan keluarnya. Kali ini aku berkesempatan mengikuti lomba menulis artikel. Pembahasannya tentang Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Awalnya ketika melakukan riset artikel ini terasa begitu menyenangkan. Sampai pada akhirnya...dipertemukan lagi dengan titik jenuh. Dan aku mulai merasa ada yang salah dengan risetku ini. Aku merasa kalau aku telah membuang-buang waktu karena terlalu fokus riset dengan mengandalkan satu sumber buku referensi saja setelah artikel berita. Seharusnya aku mengambil bahan riset dari artikel berita dan jurnal, bukan artikel berita dan buku referensi. Meski sudah kuberi ...

Fiksi Mini: Satu Hal yang Terlupakan

Ilustrasi gambar (Sumber: unsplash.com/ Annie Spratt ) TERKADANG, saking sibuknya dengan kegiatan sehari-hari dan pemikiran sendiri, kita suka lupa dengan hal-hal kecil yang (mungkin) kelihatannya sepele tapi kenyataannya sangat penting dalam hidup kita. Dan ini terjadi dalam hidupku. Hari itu aku sudah menyiapkan sejumlah jawaban yang akan ditanyakan pada interview nanti. Bahkan jawaban untuk pertanyaan yang belum bisa kukuasai pun sudah disiapkan. Semuanya berkat riset yang kulakukan secara daring sejak beberapa hari lalu. Dengan persiapan ini–saat itu–aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa lolos kali ini. Tinggal didukung dengan doa sekencang-kencangnya juga dukungan dari orang-orang sekitar terutama keluarga, baik secara moral maupun finansial. Aku tidak ingin mengecewakan harapan mereka. *** HARI H wawancara pun tiba, dan aku sudah memperkirakan bahwa pasti banyak yang kualitasnya lebih baik dariku. Jujur, hal ini sempat membuatku minder. Tapi karena sedang butuh...