Langsung ke konten utama

Review US-Movie: Still Alice (2014)

Sumber: Dokumen pribadi


  • Judul: Still Alice
  • Sutradara: Richard Glatzer, Wash Westmoreland
  • Genre: Drama, Slice of life
  • Tahun Rilis: 2014
  • Pemain: Julianne Moore, Alec Baldwin, Kristen Stewart, Kate Bosworth, Hunter Parrish, Shane McRae, Stephen Kunken

Merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Lisa Genova, film Still Alice memfokuskan kisahnya pada Alice Howland (diperankan Julianne Moore) yang divonis mengidap Alzheimer Dini kala usianya baru memasuki 50 tahun. Alice yang dikenal perfeksionis, tangguh, serta keras kepala tidak menyangka hal semacam ini terjadi pada dirinya.

Sebagai profesor ilmu bahasa Universitas Columbia, tentu saja keadaan ini akan menjadi penghalang untuk tetap bisa mengajar di kampus bergengsi tersebut. Usaha demi usaha dilakukan agar Alice dapat mengatasi semuanya sendiri. Namun, pada akhirnya ia tak kuasa menanggung hal itu. Dengan berat hati, ia memberi tahu perihal kondisi kesehatannya belakangan ini pada suami dan ketiga anaknya. Mengingat ada kemungkinan akan menurun ke salah satu anaknya dan dikhawatirkan peluangnya mencapai 100 persen.

Sejak saat itu, semua aktivitas Alice mulai makin kacau. Dari cara Alice mengajar yang akhirnya mendapat komplain dari para mahasiswa sampai melupakan rencana makan malam John Howland (suami Alice, diperankan Alec Baldwin) bersama atasan John. Alice pun berharap lebih baik ia menderita kanker karena tidak perlu melupakan kata-kata yang pada ujungnya hanya akan membuat malu.

Persiapan demi persiapan dilakukan Alice seorang diri dalam menghadapi penyakit yang sangat jarang terjadi pada orang seusianya. Hingga ia menyampaikan permintaan terakhir pada Lydia (putri bungsu Alice, diperankan Kristen Stewart) sebelum ia pergi, sayangnya menurut Lydia menggunakan penyakit sebagai alasan untuk membujuk Lydia dianggap tidak wajar. Sesungguhnya, Alice pun makin tidak sanggup menerima keadaan yang membuat hidupnya menjadi tak sempurna lagi. Lalu, satu per satu ingatan Alice memudar.

Still Alice memperlihatkan gambaran kehidupan sang karakter utama yang begitu sempurna, memiliki keluarga harmonis yang saling mendukung serta karier cemerlang. Alice bukan berasal dari keluarga yang sangat mampu secara finansial. Ia hanyalah orang biasa yang terus berjuang dalam hidupnya dan terbiasa mengatasi semua urusannya secara mandiri.

Jika kita menyimaknya sedari awal, chemistry yang dibangun Keluarga Howland sudah begitu terasa dan benar-benar memberikan gambaran tentang keluarga harmonis. Sayangnya ketika karakter sentral kita dipertemukan dengan sang putri bungsu, Lydia Howland, di Los Angeles, chemistry mereka belum dapat hingga film ini berjalan di paruh kedua.

Perubahan hidup Alice yang menjadi tidak sempurna lagi pun tak terlepas dari dua kelemahan ini. Pertama, Still Alice minim konflik. Tak seperti mayoritas film bergenre serupa, apa yang dikisahkan di dalamnya hanya menggambarkan tentang kehidupan sehari-hari. Mungkin untuk sebagian orang, sajian kisah seperti ini akan terasa membosankan. Kedua, latar belakang keluarga Alice digambarkan kurang detail. Hanya hubungan Alice dan ayahnya yang diceritakan dengan cukup jelas. Tapi jangan salah, kedua hal ini juga turut mewakili ketidaksempurnaan dari seorang Alice Howland.

Yang aku sukai dari Still Alice ialah penempatan musik latar dari menit 02:15 sampai menit 02:26, sangat tenang dan sesuai dengan adegannya. Tidak terlalu berisik apalagi bikin aku ngantuk meskipun musik yang dimainkan mengalun pelan. Ketika musik ini disambung dengan dialog dari karakter lain sampai pada menit 02:37, tetap terasa nyambung dengan adegannya.

Still Alice memberikan suatu pembelajaran berharga tentang pentingnya menerima keadaan diri yang tidak sempurna. Belajar mensyukuri apa yang kita miliki dan kita hadapi. Hadirnya dukungan keluarga yang selalu ada untuk kita juga mengingatkan kita akan pentingnya memiliki support system.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fiksi Mini: Berdamai dengan Sifat Mengeluh

Ilustrasi gambar (Sumber: pixabay.com/ graphixmade ) SETIAP hari ada saja yang membuatku tidak berhenti untuk mengeluh. Dan kebanyakan di antaranya adalah masalah sepele. Capek dikit, ngeluh . Merasa buntu, ngeluh juga. Sampai orang-orang terdekatku pada caaapek dengerin keluh-kesahku ini. Tiap kali bilang pengen curhat, pasti isinya enggak jauh-jauh dari keluhanku yang sebenarnya masih bisa dicari jalan keluarnya. Kali ini aku berkesempatan mengikuti lomba menulis artikel. Pembahasannya tentang Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Awalnya ketika melakukan riset artikel ini terasa begitu menyenangkan. Sampai pada akhirnya...dipertemukan lagi dengan titik jenuh. Dan aku mulai merasa ada yang salah dengan risetku ini. Aku merasa kalau aku telah membuang-buang waktu karena terlalu fokus riset dengan mengandalkan satu sumber buku referensi saja setelah artikel berita. Seharusnya aku mengambil bahan riset dari artikel berita dan jurnal, bukan artikel berita dan buku referensi. Meski sudah kuberi ...

First Impression: J-Drama Glass Heart (2025)

Sumber: Dokumen pribadi Kali ini aku mau sharing pengalaman aku nonton 2 episode perdana drama musikal yang rilis tahun ini, yaitu Glass Heart. Dorama dari Jepang ini sebenarnya udah masuk ke wishlist aku sejak pertama kali tayang di Netflix. Gak disangka, ternyata adikku juga nonton dorama ini mengingat dia sendiri tertarik banget sama hal-hal berbau Jepang. Dari adegan pembuka, dorama ini cukup mencuri perhatianku karena ceritanya yang benar-benar fokus di dunia musik dan diceritakan bagaimana awal perjuangan band baru bentukan Fujitani Naoki (diperankan Satoh Takeru), TENBLANK, untuk dikenal oleh para pecinta musik rock . Aku sendiri sebetulnya enggak gitu update ya sama berita-berita tentang J-Dorama apalagi J-Pop. Nonton dorama aja jarang, malah lebih sering ngikutin update -an drakor sama drama Mandarin. Hehe Terus karakter protagonis ceweknya, Saijo Akane (diperankan Miyazaki Yu), walau sebenarnya karakter dia klise banget tapi lihat gimana perjuangan dia tuh bikin aku k...