Langsung ke konten utama

Pembelajaran Berharga dari When My Love Blooms

Sudah dua bulan lamanya berpisah dengan drama ini. Drama yang memberi pembelajaran bermakna dan masih cukup aku ingat bagaimana kisah-kisahnya, When My Love Blooms.

Awal perkenalanku dengan drama ini bermula dari keinginanku mencari tontonan baru yang kiranya bisa membuat diriku terhibur. Selama mengikuti cerita dari dua tokoh utama drakor ini, Yoon Ji Soo dan Han Jae Hyun, aku menyadari bahwa rasa percaya dan saling menghargai itu sangat penting dalam menjalin hubungan. Gak cuma dalam hubungan dua sejoli aja, tapi juga dengan teman dan keluarga.

Aku salut sama persahabatan dua tokoh utama ini dengan 3 teman mereka yang lain. Persahabatan mereka benar-benar solid walau sudah terjalin lebih dari 2 dekade. Mereka selalu ada di saat Ji Soo dan Jae Hyun lagi terpuruk. Padahal mereka bertiga ini cuma orang luar lho. Tapi effort-nya itu luar biasa banget waktu bantuin dua sejoli ini dalam menghadapi berbagai masalah yang datang silih berganti.

Sayangnya, mereka yang mengklaim diri sebagai keluarganya Ji Soo dan Jae Hyun‒juga seharusnya selalu ada untuk dua tokoh protagonis ini‒malah berusaha mengendalikan agar tidak salah jalan. Gak salah sih emang niatnya. Cuma kalau niat ini disertai dengan ego, justru malah membuat orang yang berusaha kita lindungi itu semakin menjauh dan merasa tidak dihargai.

Berpikir lagi tentang dua hal di atas, aku mulai menyadari sepertinya masih ada lagi yang perlu aku perbaiki dalam menjalin hubungan dengan orang-orang terdekatku. Kadang-kadang, ada aja kejadian yang pada akhirnya‒tanpa aku sadari‒malah menyakiti mereka. Merasa bersalah? Tentu saja. Penyebabnya gak jauh-jauh dari masalah beda pendapat. Tapi orang tuaku sering bilang kalau apa yang terjadi dalam kehidupan kami tiap hari namanya "warna kehidupan kita."

Pertama kali mendengar sebutan itu membuatku merasa, "Ya udahlah, itu kan udah lewat kejadiannya." Kadang-kadang juga gak terima karena, "Masa iya sih warna kehidupan harus diwarnai juga dengan perdebatan kecil?" Cuma makin ke sini aku jadi mikir lagi kalau mungkin yang orang tuaku bilang ada benarnya.

Warna kehidupan tuh gak harus selalu diwarnai dengan warna-warna yang indah dan enak diliat doang. Ada pula warna-warna lain yang mungkin awalnya kita sendiri juga gak terima kenapa ada warna seperti ini dalam kehidupan kita. Pengennya ngejalanin hidup tuh anteng-anteng aja, gak ada masalah apa pun yang ujung-ujungnya bikin keki. Tapi kan hidup memang seperti itu, ada manisnya dan ada yang bikin kesal juga. Yang penting tuh kita tetap percaya sama orang terdekat kita dan tetap menghargai tiap pendapat mereka sekalipun beda opini dengan kita. Itu pula yang wajib aku ingat dan praktikkan dalam kehidupanku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fiksi Mini: Berdamai dengan Sifat Mengeluh

Ilustrasi gambar (Sumber: pixabay.com/ graphixmade ) SETIAP hari ada saja yang membuatku tidak berhenti untuk mengeluh. Dan kebanyakan di antaranya adalah masalah sepele. Capek dikit, ngeluh . Merasa buntu, ngeluh juga. Sampai orang-orang terdekatku pada caaapek dengerin keluh-kesahku ini. Tiap kali bilang pengen curhat, pasti isinya enggak jauh-jauh dari keluhanku yang sebenarnya masih bisa dicari jalan keluarnya. Kali ini aku berkesempatan mengikuti lomba menulis artikel. Pembahasannya tentang Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Awalnya ketika melakukan riset artikel ini terasa begitu menyenangkan. Sampai pada akhirnya...dipertemukan lagi dengan titik jenuh. Dan aku mulai merasa ada yang salah dengan risetku ini. Aku merasa kalau aku telah membuang-buang waktu karena terlalu fokus riset dengan mengandalkan satu sumber buku referensi saja setelah artikel berita. Seharusnya aku mengambil bahan riset dari artikel berita dan jurnal, bukan artikel berita dan buku referensi. Meski sudah kuberi ...

First Impression: J-Drama Glass Heart (2025)

Sumber: Dokumen pribadi Kali ini aku mau sharing pengalaman aku nonton 2 episode perdana drama musikal yang rilis tahun ini, yaitu Glass Heart. Dorama dari Jepang ini sebenarnya udah masuk ke wishlist aku sejak pertama kali tayang di Netflix. Gak disangka, ternyata adikku juga nonton dorama ini mengingat dia sendiri tertarik banget sama hal-hal berbau Jepang. Dari adegan pembuka, dorama ini cukup mencuri perhatianku karena ceritanya yang benar-benar fokus di dunia musik dan diceritakan bagaimana awal perjuangan band baru bentukan Fujitani Naoki (diperankan Satoh Takeru), TENBLANK, untuk dikenal oleh para pecinta musik rock . Aku sendiri sebetulnya enggak gitu update ya sama berita-berita tentang J-Dorama apalagi J-Pop. Nonton dorama aja jarang, malah lebih sering ngikutin update -an drakor sama drama Mandarin. Hehe Terus karakter protagonis ceweknya, Saijo Akane (diperankan Miyazaki Yu), walau sebenarnya karakter dia klise banget tapi lihat gimana perjuangan dia tuh bikin aku k...

Review US-Movie: Still Alice (2014)

Sumber: Dokumen pribadi Judul: Still Alice Sutradara: Richard Glatzer, Wash Westmoreland Genre: Drama, Slice of life Tahun Rilis: 2014 Pemain: Julianne Moore, Alec Baldwin, Kristen Stewart, Kate Bosworth, Hunter Parrish, Shane McRae, Stephen Kunken Merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Lisa Genova, film Still Alice  memfokuskan kisahnya pada Alice Howland (diperankan Julianne Moore) yang divonis mengidap Alzheimer Dini kala usianya baru memasuki 50 tahun. Alice yang dikenal perfeksionis, tangguh, serta keras kepala tidak menyangka hal semacam ini terjadi pada dirinya. Sebagai profesor ilmu bahasa Universitas Columbia, tentu saja keadaan ini akan menjadi penghalang untuk tetap bisa mengajar di kampus bergengsi tersebut. Usaha demi usaha dilakukan agar Alice dapat mengatasi semuanya sendiri. Namun, pada akhirnya ia tak kuasa menanggung hal itu. Dengan berat hati, ia memberi tahu perihal kondisi kesehatannya belakangan ini pada suami dan ketiga anaknya. Mengingat ada kemun...